Sistem Pelumasan

Sistem pelumasan merupakan salah satu sistem pelengkap pada suatu kendaraan dengan tujuan mengatur dan menyalurkan minyak pelumas kebagian-bagian mesin yang bergerak. Minyak Pelumas yang digunakan pada suatu mesin kendaraan mobil adalah oli mesin. Oli pada suatu kendaraan memiliki beberapa sifat utama yaitu :

a. Sebagai Pelumasan

Oli mesin melumasi permukaan metal yang bersinggungan dalam mesin dengan cara membentuk lapisan oli (oil film). Lapisan ini berfungsi mencegah kontak langsung antara permukaan metal dan membatasi keausan dan kehilangan tenaga yang minim

Gambar 1. Persinggungan Metal

Gambar 1. Persinggungan Metal
(New Step 1 Training Manual,1996)

Gambar 1 diambil dari New Step 1 Training Manual yang menggambarkan terjadinya lapisan oli pada suatu persinggungan antara poros dan bearing. Gambar tersebut hanya dijadikan sebagai contoh tentang fungsi oli sebagai pelumas untuk memperjelas kajian teoritis.

b. Bersifat Pendingin

Pembakaran menimbulkan panas dan komponen mesin akan menjadi panas sekali. Hal ini akan mengakibatkan keausan yang cepat bila tidak diturunkan temperaturnya. Untuk melakukan ini oli mesin harus disirkulasi disekeliling komponen-komponen agar dapat menyerap panas dan mengeluarkannya dari mesin. Peredaran minyak pelumas (oli) tersebut dengan membawa panas yang bersikulasi kesegala arah sehingga pendinginan dapat terjadi.

c. Sebagai Perapat

Oli mesin membentuk semacam lapisan antara torak dan silinder. Ini berfungsi sebagai perapat (seal) yang dapat mencegah hilangnya tenaga mesin. Oli mesin menutup kebocoran yaitu cacat-cacat kecil, lubang berpori-pori sehingga ketidaksempurnaan pada cincin torak dapat tertutup oleh oli dan tekanan dalam ruang pembakaran dapat dipertahankan serta tetap berfungsi dengan baik.

Sebaliknya apabila ada kebocoran maka gas campuran yang dikompresikan atau gas pembakaran akan menekan di sekeliling torak dan masuk ke dalam bak engkol dan ini berarti akan kehilangan tenaga.

d. Sebagai Pembersih

Kotoran (lumpur) akan mengendap dalam komponen-komponen mesin. Hal ini akan menambah pergerakan dan menyumbat saluran oli. Oli mesin akan membersihkan kotoran yang menempel tersebut untuk mencegah tertimbun di dalam mesin.

 e. Sebagai Penyerap Tegangan

Oli mesin menyerap dan menekan tekanan lokal yang bereaksi pada komponen yang dilumasi, serta melindungi agar komponen tersebut tidak menjadi tajam saat terjadinya gesekan-gesekan pada bagian-bagian yang bersinggungan.

Jenis Minyak Pelumas

Mesin bensin adalah salah satu jenis mesin yang menggunakan minyak pelumas dengan spesifikasi tertentu. Agar diperoleh pelumasan yang baik, maka dibutuhkan pengetahuan tentang minyak pelumas.

 

a. Bahan Dasar Minyak Pelumas

Bahan dasar minyak pelumas adalah bahan-bahan yang digunakan dalam proses pelumasan terutama pada komponen-komponen mesin yang bergerak. Bahan dasar minyak pelumas dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu :

 

1) Minyak Pelumas Mineral

Minyak ini diperoleh dari hasil pengolahan bahan tambang dengan cara penyulingan. Minyak ini memiliki harga relatif murah, bahan-bahannya tidak mengandung racun, waktu pemakaiannya lama dan tidak merusak sekat.

 

2) Minyak Pelumas Alami

Minyak ini dibuat dari bahan dasar alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti: kelapa sawit, kopra, jarak dan juga ada yang berasal dari lemak hewan.

 

3) Minyak Pelumas Sintesis

Minyak pelumas ini dapat dibuat dari minyak mineral atau alami yang sudah ditambahkan bahan-bahan kimia.

Selain minyak pelumas cair, ada juga minyak pelumas setengah padat. Bahan pelumas ini disebut gemuk yang berasal dari minyak mineral yang dipadatkan dengan sabun metalic.

 

 

Sifat-sifat Dasar Minyak Pelumas

Sifat-sifat dasar minyak pelumas yang perlu diperhatikan dalam pemakaian minyak pelumas antara lain:

 

1). Viskositas Minyak Pelumas

Viskositas adalah sifat yang sangat penting dalam minyak pelumas.Viskositas minyak pelumas menunjukkan kemampuan dan kemudahan minyak pelumas mengalir. Tantangan minyak pelumas adalah mengalir dengan mudah pada waktu start serta memberikan perlindungan yang baik terhadap

komponen-komponen mesin yang bergerak terutama pada temperatur operasi yang relatif tinggi.

Viskositas minyak pelumas diukur pada suhu tertentu untuk menentukan kemampuan pelumas mengalir melalui alat viskosimeter standar. Terdapat 4 klasifikasi viskositas utama yaitu :

 

1. ISO VG yaitu alat dalam centistokes (cSt) pada suhu 40ºC

2. AGMA (American Gear Manufacturers Association).

3. SAE (Society of Automotive Engineers, misal SAE 30

4. Saybolt, unit ini sering dipakai oleh beragam produsen minyak untuk Menetukan viskositas pada 100ºF atau 210ºF.

 

Minyak pelumas viskositas rendah berarti minyak tersebut encer, sehingga lapisan minyaknya tipis dan mudah mengalir. Sedangkan minyak viskositas tinggi berarti minyak tersebut kental, lapisannya sangat tebal dan sulit mengalir tetapi tahan terhadap beban berat. Viskositas ini dapat bertubah karena kontaminan, perubahan temperatur dan tekanan.

 

Jenis minyak pelumas ditentukan menurut kekentalannya menurut angka indeks yang disebut SAE (Society of Automotive Engineers) yang terdapat di USA, antara lain:

 

(1) SAE 10, keadaanya encer dan digunakan untuk minyak pembersih.

SAE 20, keadaannya encer digunakan untuk mengisi bak kopling.

(2) SAE 30, 40, 50, memiliki kekentalan sedang dan biasnya digunakan untuk mesin-mesin motor atau mobil.

(3) SAE 70, keadaannya sangat kental dan dipakai untuk bak percepatan.

(4) SAE 90, 140, keadaanya paling kental dan banyak digunakan untuk oli gardan.

 

Angka SAE dalam penggunaan tiap mesin perlu diperhatikan, karena penggunaan oli mesin dengan angka SAE yang tidak sesuai dapat mempengaruhi kemampuan kerja dan usia mesin itu sendiri.

 

2). Indeks Viskositas

Indeks viskositas merupakan konstanta yang menunjukan pengaruh temperatur terhadap viskositas. Indeks viskositas besar berarti pengaruh temperatur terhadap perubahan viskositas rendah atau stabil viskositas kecil berarti pengaruh temperatur terhadap viskositas tinggi.

 

3) Titik Nyala Minyak Pelumas

Titik nyala minyak pelumas adalah suhu dimana uap dipermukaan minyak pelumas itu mulai dapat terbakar. Titik nyala merupakan temperature minyak pelumas menguap bercampur udara dan terbakar.

Minyak pelumas dengan titik nyala rendah menunjukkan banyak komponen-komponen yang rendah. Minyak pelumas yang baik memerlukan titik nyala yang tinggi karena jika rendah akan terbakar ketika melumasi mesin.

 

4) Titik Tuang Minyak Pelumas

Titik tuang minyak pelumas merupakan kemampuan minyak pelumas dalam mengisi celah-celah yang akan dilumasi. Pada keadaan suhu rendah minyak pelumas tidak dapat mengalir karena pengaruh densitas. Kondisi ini juga mempengaruhi ketebalan lapisan minyak pelumas.Diharapkan dalam segala keadaan bagian permukaan yang saling bergesekan dapat terlumasi.

Sifat ini sangat penting uintuk melindungi permukaan pada saat mulai bergerak yaitu pada saat minyak pelumas belum cukup banyak saat pompa minyak belum bekerja sebagaimana mestinya.

Titik tuang merupakan temperatur terendah pada saat yang sama minyak tidak mengalami kesulitan dapat dituang dari kontainer atau wadah.

 

5) Kestabilan Minyak Pelumas

Kestabilan minyak pelumas dimaksudkan tidak terjadi perubahan komponen-komponen pada waktu disimpan lama. Komponen-komponen yang menyebabkan tidak stabil biasanya senyawa tak jenuh karena bersifat mudah teroksidasi, sehingga menyebabkan terjadinya gumpalan-gumpalan pada minyak pelumas.

 

6) Nilai Karbon pada Minyak Pelumas

Nilai karbon pada minyak pelumas menjelaskan jumlah karbon yang terbentuk pada saat dipanaskan pada suhu tinggi. Semakin banyak jumlah karbon yang terbentuk dari hasil pembakaran, menandakan minyak pelumas tersebut kurang baik. Hal ini disebabkan banyaknya karbon hasil pembakaran

menyebabkan terhambatnya saluran pelumasan dan dapat berakibat kemacetan pada komponen-komponen yang bergerak. Minyak pelumas yang baik adalah minyak pelumas yang sedikit terjadinya pembentukan karbonnya.

 

7) Daya Emulsi Minyak Pelumas

Daya emulsi minyak pelumas merupakan suatu kemampuan minyak pelumas untuk memisahkan diri (tidak tercampur) dengan air. Semakin tinggi daya emulsi semakin baik kualitas minyak pelumas.

 

Klasifikasi Minyak Pelumas

Macam dan jenis miyak pelumas dapat digolongkan berdasarkan:

 

1). Standar Asosiasi

SAE (Society of Automative Engineers) mengklasifikasikan minyak pelumas menurut tingkat kekentalannya (viskositas) pada temperatur 40º C, 100ºC dan beberapa temperatur rendah (dibawah 0ºC). Minyak pelumas dengan SAE 20W-50 berarti minyak pelumas tersebut mudah mengalir dan tertuang seperti pelumas encer dengan tingkat kekentalan SAE 20W pada temperatur rendah,

namun kekentalannya tetap terjaga seperti tingkat kekentalan SAE 50 pada temperatur operasi mesin yang relatif tinggi.

 

API (American Petrolium Instute) membuat klasifikasi untuk menunjukkan kinerja minyak pelumas berdasarkan atas penggunaan dan beban. Motor bensin diberi kode S (singkatan dari Service atau Spark). Huruf awal tersebut diikuti dengan huruf alphabet yang dimulai berurutan dengan huruf A

untuk spesifikasi minyak pelumas awal (SA). Tingkat kinerja minyak pelumas mesin bensin terakhir saat ini adalah SL.

 

API (American Petroleum Instute),ASTM (American Society for Testing and Materials) dan SAE (Society of Automative Engineers) membentuk system klasifikasi pelumas API sebagai usaha bersama. Sistem klasifikasi itu merupakan metode mengklasifikasikan minyak pelumas menurut sifat-sifat kinerjanya serta berkaitan dengan jenis tugas yang dimaksud.

 

Klasifikasi ”S” service station/mesin pengapian busi :

(a).SA spesifikasi kuno (tidak digunakan lagi)

(b).SB digunakan untuk motor bensin dengan tugas ringan (jarang digunakan).

(c).SC digunakan untuk mesin kendaraan buatan antara tahun 1964-1967.

(d).SD digunakan untuk mesin kendaraan buatan antara tahun 1968-1790.

(e).SE digunakan untuk mesin kendaraan buatan tahun 1971 ke atas.

(f).SF digunakan untuk mesin kendaraan buatan tahun 1980 ke atas.

(g).SG digunakan untuk mesin kendaraan buatan tahun 1989 ke atas.

(h).SH digunakan untuk mesin kendaraan buatan tahun 1993 ke atas.

(i).SJ digunakan untuk mesin kendaraan buatan tahun 1997 ke atas.

(j).SL digunakan untuk mesin kendaraan buatan tahun 2001 ke atas.

Minyak pelumas untuk motor diesel diberi kode C (commercial atau compression) dengan diikuti isecara alphabetis.

(a) CA digunakan untuk motor diesel dengan tugas ringan (tidak digunakan lagi).

(b) CB digunakan untuk motor diesel dengan tugas ringan (tidak digunakan lagi).

(c) CC digunakan untuk motor diesel dengan tugas sedang sampai berat.

(d) CD digunakan untuk motor diesel dengan tugas berat yang dilengkapi dengan ”supercharger” atau ”turbocharger”.

(e) CD-II digunakan untuk motor diesel dua langkah.

(f) CE digunakan untuk motor diesel dengan tugas berat dengan ”turbo/super charger” (tidak digunakan lagi).

(g) CF digunakan untuk motor diesel buatan 1994 ke atas.

(h) CF-2 digunakan untuk motor diesel dua langkah.

(i) CF-4 digunakan untuk motor diesel empat langkah dengan tugas berat buatan tahun 1990 dan beroperasi dengan kecepatan tinggi.

(j) CG-4 digunakan untuk motor diesel empat langkah dengan tugas berat buatan tahun 1994 dan beroperasi dengan kecepatan tinggi serta beban berat.

(k) CH-4 digunakan untuk motor diesel kecepatan tinggi buatan tahun 1998 ke atas.

(l) CI-4 digunakan untuk motor diesel empat tugas berat yang memenuhi standar emisi gas buang.

 

2) Standar Pabrik

Minyak pelumas selain dicantumkan standar pabriknya, juga dicantumkan standar SAE dan API. Misalkan minyak pelumas Mesran F-1 dengan SAE 5W-50 adalah minyak pelumas yang dipakai pada waktu musim dingin, ekuivalen dengan API CC-SE.

 

3) Peringkat Minyak Pelumas

Minyak pelumas dibedakan menurut peringkatnya menjadi :

(a) Minyak pelumas Peringkat Tunggal (single grade)

Minyak pelumas ini mempunyai karakteristik viskositas tunggal seperti minyak pelumas dengan SAE 10, SAE 20, SAE 30, SAE 40, SAE 50 dan sebagainya. Minyak pelumas ini digunakan untuk peralatan mesin yang rentang temperatur lingkungan operasinya relatif pendek.

 

(b) Minyak Pelumas Peringkat Ganda (multi grade)

Minyak pelumas ini mempunyai karakteristik viskositas ganda seperti minyak pelumas dengan SAE 10W-30, SAE 15W-40, dan sebagainya. Minyak pelumas ini digunakan untuk mesin dengan rentang suhu operasi lingkungan relatif panjang.

API SERVICE GANDA
Pada sebagian besar oli mobil biasanya API Servicenya ada dua. Sebagai contoh API SL/CF. Artinya: API yang pertama menunjukkan penggunaan utama oli tersebut yaitu pada mesin bensin dengan kualifikasi SL namun dalam kondisi darurat oli tersebut masih dapat digunakan pada mesin diesel dengan kualifikasi CF. Demikian pula sebaliknya.

PILIH KEKENTALAN PELUMAS YANG TEPAT
Tingkat kekentalan pelumas yang juga disebut “Viscosity-Grade” adalah ukuran kekentalan dan kemampuan pelumas untuk mengalir pada temperatur tertentu
Kode pengenal Oli adalah berupa huruf SAE yang merupakan singkatan dari Society of Automotive Engineers. Selanjutnya angka yang mengikuti dibelakangnya, menunjukkan tingkat kekentalan oli tersebut. SAE 40 atau SAE 15W-50, semakin besar angka yang mengikuti Kode oli menandakan semakin kentalnya oli tersebut.
Sedangkan huruf W yang terdapat dibelakang angka awal, merupakan singkatan dari Winter. SAE 15W-50, berarti oli tersebut memiliki tingkat kekentalan SAE 10 untuk kondisi suhu dingin dan SAE 50 pada kondisi suhu panas. Dengan kondisi seperti ini, oli akan memberikan perlindungan optimal saat mesin start pada kondisi ekstrim sekalipun.
Sementara itu dalam kondisi panas normal, idealnya oli akan bekerja pada kisaran angka kekentalan 40-50 menurut standar SAE.
Lihat Buku Manual Kendaraan…

PETUNJUK SAE GRADE PELUMAS MOTOR UNTUK KENDARAAN PENUMPANG
Grade Pelumas terbagi atas singlegrade / monograde seperti SAE 15 dan SAE 50 (digunakan pada temperatur ektrim) serta multigrade seperti SAE 5W-50 dan 15W-50 banyak digunakan (kecuali pada temperatur yang sangat panas atau sangat dingin) karena pelumas ini cukup encer untuk mengalir pada temperatur rendah dan cukup kental untuk bekerja secara memuaskan pada temperatur tinggi.
Lebih jelasnya kita gunakan ilustrasi berikut:
Ada 3 Oli, 1 multigrade, 2 monograde
Oli 1 SAE 15 (encer)
Oli 2 SAE 50 (kental)
Oli 3 SAE 15W50 (multigrade)

ketiga Oli tersebut dibawa tempat bersuhu dingin maka:
Oli 1 (SAE 15) akan lebih kental karena dingin
Oli 2 (SAE 50) dapat membeku karena asalnya sudah kental
Oli 3 (SAE15W50) kekentalannya akan sama dengan Oli 1 (SAE15)

Sekarang ketiga Oli tersebut dibawa ke tempat yang bersuhu panas, maka:
Oli 1 (SAE 15) menjadi sangat encer bahkan bisa menguap semua
Oli 2 (SAE 50) menjadi lebih encer
Oli 3 (SAE 15W50) kekentalannya sama dengan Oli 2 (SAE 50)

Bookmark the permalink.

2 Responses to Sistem Pelumasan

  1. edy says:

    untuk Timor baiknya pake SAE brapa ya om?
    untuk transmisi juga pakai SAE brapa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>